MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
MENURUT WHEELER
Kurikulum adalah salah satu istilah yang digunakan orang-orang Yunani untuk perlombaan olahraga, atau tempat yang
digunakan untuk berpacu tersebut. dari pengertian ini, maka kurikulum
mengalami perluasan makna sebagai satu jalur arahan dalam pencapaian
tujuan dalam dunia pendidikan. Kurikulum dapat dipahami sebagai sejumlah
pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik.
Kurikulum
juga dikatakan sebagai bentuk pengalaman belajar peserta didik. Disini
kurikulum memiliki hubungan yang sangat erat dengan evaluasi
keberhasilan pelaksanaan proses / kegiatan belajar mengajar.
Siswa dituntut tidak hanya menguasai sisi kognitif atau pengetahuan
dalam artian isi atau materi saja, akan tetapi juga dilihat proses siswa
dalam memperoleh pengalaman belaja, Kurikulum dipahami pula sebagai
suatu bentuk program atau rencana untuk belajar.
Dalam
suatu kurikulum mesti ada perencanaan pembelajaran serta bagaimana
perencanaan itu diimplementasikan menjadi pengalaman belajar siswa dalam
rangka pencapaian tujuan yang diharapkan. Maka yang menjadi fungsi
suatu kurikulum adalah dalam mempersiapkan peserta didik agar mereka
dapat hidup di masyarakat.
Kurikulum
dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai
suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala
tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga
sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran
tidak akan berlangsung secara efektif. Sedangkan untuk mengembangkan
kurikulum sendiri mempunyai bermacam – macam model.
Menurut
Good ( 1972 ) dan travers ( 1973 ). Model adalah abstraksi dunia nyata
atau representasi peristiwa kompleks atau sistem dalam, dalam bentuk
naratif, matematis grafis, serta lambang – lambang lainnya . Model
bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang
dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya
berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan
sesuatu ke dalam realitas, yang sifatnya lebih praktis .
Dalam
pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. Setiap
model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan
kurikulumnya, maupun dari tahapan pengebangannya sesuai dengan
pendekatannya. Salah satu model kurikulum yang kini dikembangkan atau
diterapkan dalam bidang pendidikan adalah model kurikulum Wheeler.
D. K. (Daryl Kenneth) Wheeler
Sesuai
dengan nama model pengembangannya, model kurikulum ini dikembangkan
atau dipublikasikan oleh Daryl Kenneth Wheeler (1967). D.K Wheeler
adalah ahli yang mengemukakan model kurikulum siklus dimana model ini
berbeda dengan model kurikulum sebelumnya (Tyler, Taba, Oliva, dan
Beauchamp) yang pengembangannya masih berupa garis lurus (linier).
Beliau mempunyai gagasan tersebut karena kurikulum sebelumnya dirasakan
belum bisa memberikan umpan balik dan membantu siswa untuk mencapai
tujuan yang diharapkan.
Menurut
Wheeler, pengembangan kerikulum merupakan suatu proses yang membentuk
lingkaran. Menurut wheeler proses pengembangan kurikulum merupakan
proses yang terjadi secara terus menerus dan saling berkaitan. Wheeler
berpendapat bahawa proses pengembangan kurikulum terjadi dari lima fase
atau tahap. Setiap tahap dalam proses ini merupakan suatu pekerjaan yang
harus berlangsung secara berurut atau sistematis. Maksudnya disini
adalah kita tidak mungkin dapat menjalankan atau menyelesaikan tahap
kedua kalau tahap pertama belum terselesaikan atau dikerjakan. Namun
demikian manakala setiap tahap sudah selesai dikerjakan, kita akan
kembali lagi ke tahap awal. Demikian seterusnya sehingga proses
pengembangan daripada sebuah kurikulum berlangsung secara terus menerus
tanpa ada ujungnya.
Tahap-tahap pengembangan kurikulum menurut Wheeler
Wheeler berpendapat bahwa pengembangan kurikulum teridri dari 5 tahap yaitu:
1. Mementukan tujuan umum dan tujuan khusus.
Dalam
hal ini tujuan umum dapat berupa tujuan yang bersifat normative yang
mengandung tujuan filisofis (aim) atau tujuan pembelajaran yang bersifat
praktis (goals). Sedangkan yang menjadi tujuan khusus yaitu tujuan yang
bersifat spesifik dan observable (objective) yaitu suatu tujuan
pembelajaran yang mudah diukur ketercapaiannya. Dalam
pengembangan kurikulum menurut Wheeler penentuan tujuan merupakan tahap
awal yang harus dilakukan. Dalam penyusunan suatu kurikulumin,
merumuskan tujuan merupakan hal yang harus dikerjakan karena tujuan
merupakan arah atau sasaran pendidikan. Tanpa ada tujuan maka apa yang
ingin di capai akan menjadi tidak.
Alasan alasan yang mendasar mengenai pentingnya perumusan suatu tujuan adalah:
a. Tujuan berkaitan erat dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh dunia pendidikan.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, denagn
demikian salah satu komponen penting yang harus ada dalam suatu
perencanaan kurikulum adalah tujuan itu sendiri.
b. Tujuan
kurikulum dapat membantu pengembang kurikulum dalam mendesain suatu
model kurikulum. Melalui tujuan yang jelas, maka dapat membantu para
pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat
digunakan bahkan akan membantu guru dalam mendesain sistem pembelajaran.
Maksudnya disini adalah dengan tujuan yang jelas dapat memberikan
arahan kepada guru dalam menentukan bahan atau materi yang harus
dipelajari, menentukan metode dan strategi pembelajaran yang akan
digunakan, menentukan alat, media, dan sumber pembelajaran, serta
bagaimana cara merancang alat evaluasi untuk menentukan keberhasilan
belajar siswa.
c. Tujuan
dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas batas serta
kualitas pembelajaran. Dengan adanya tujuan kurikulum yang jelas dapat
digunakan sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas
pembelajaran. Artinya, melalui penetapan tujuan, para pengembang
kurikulum termasuk guru dapat mengontrol sampai mana siswa telah
memperoleh kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan
kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dari itu dengan adanya tujuan akan
dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.
2. Menentukan
pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam dalam langkah pertama. Yang
dimaksud dengan pengalaman belajar disini adalah segala
aktivitas siswa dalam berinteraksi denagn lingkungan. Menentukan
pengalaman belajar merupakan hal yang penting untuk materi - materi yang
sesuai dalam proses pembelajaran.
3. Menentukan isi dan materi pelajaran sesuai dengan pengalaman belajar
Tahap
ketiga dalam pengembangan kurikulum menurut Wheeler adalah penentuan
isi dan materi pelajaran. Penentuan isi dan materi pelajaran ini di
dasarkan atas pengalaman belajar yang di alami oleh peserta didik,
pengalaman belajar yang dialami oleh peserta didik dijadikan suatu acuan
dalam penyusunan materi ajar.langkah langkah pengorganisasian merupakan
hal yang sangat penting karena dengan pengorganisasian yang jelas akan
memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi
pengalaman belajar bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi
pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
4. Mengorganisasi
atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi pelajaran.
Setelah materi ajar disusun maka dilakukan penyatuan antara pengalaman
belajar dengan materi ajar yang telah disusun, hal ini bertujuan agar
terjadi hubungan atau kesinambungan antara pengalaman belajar dengan
materi ajar. Sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan naik
sehingga hasil yang diperoleh pun dapat maksimal.
5. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.
Disini
setelah proses pembelajaran selesai akan dilaksanakan suatu proses
evaluasi. Dalam proses pengembangan kurikulum ini tahap evaluasi
merupakan tahap yang sangat penting, hal itu karena proses penilaian
atau evaluasi dapat memberikan informasi tentang ketercapaian daripada
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan evaluasi ini maka akan
dapat diketahui apakah kurikulum yang diterapkan itu berjalan denagn
baik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah
tersebut.secara rinci dapat dikatakan bahwa Evaluasi bertujuan untuk
menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan
keputusan mengenai kurikulum apakan kurikulum itu masih bisa berlaku
atau harus di perbaharui atau digamti lagihal itu terjadi karena evaluasi suatu kurikulum dapat memberikan informasi
mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum terhadap
tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya,yang mana informasi
ini akan sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah
kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum
tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum
juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan
ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.
Berdasarkan
dari langkah- langkah pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh
Wheeler terlihat bahwa pengembangn kurikulum itu berbentuk sebuah siklus
(lingkaran) yang mana pada setiap tahapa dalam siklus tersebut
membentuk suatu system yang terdiri dari komponen- komponen pengembangan
yang saling berhubungan satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar