Selasa, 14 Oktober 2014

metode pengembangan kurikulum menurut Audery dan Howard Nicholls



      Audrey dan Howard Nicholls
Dalam bukunya, developing curriculum: A Participial Guide (1978), Audrey dan Howard Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang cukup tegas mencakip elemen-elemen kurikulum dengan jelas dan ringkas. Buku tersebut sangat popular di kalangan pendidik, khususnya di Inggirs, di mana pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah sudah lama ada.
Nicholas menitikberatkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum yag munculnya dari adanya perubahan situasi. Mereka berpendapat bahwa :” …change should be planed and introduced on a rational and valid this according to logical process, and this has not been the case in the vast majority of changes that have already taken place”
Audrey dan Nichllos mendifisikan kembali metodenya Tyler, Taba, Wheeller dengan menekan pada kurikulum proses yang bersiklus atau bentuk lingkaran, dan ini dilakuakan demi langkah awal, yaitu analisis situasi (situasional analysis). Kedua penulis ini mengukapkan bahwa sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan dengan lebih jelas, konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu harus dibuat harus diperrtimbangkan dengan secara mendetail dan serius. Dengan demikian, analisis  situasi menjadi langkah pertama (preliminary stage) yang membuat para pengembang kurikulum memahami faktor-faktor yang akan mereka kembangkan.
Terdapat lima langkah atau tahap (stage) yang diperlukan dalam proses pengembangan secara kontinu (continue curriculum process). Langkah-langkah terbut menurut Nicholls adalah;
a.       Situsional analysis (analisis situasional)
b.      Selection of objectives  (seleksi tujuan)
c.       Selection ang organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d.      Selction and organization of methods (seleksi dan organisasi metode)
e.       Evaluation (evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi (situasioanal analysis) merupakan suatu yang disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum lebih reposintif terhadap lingkungan dan secara khusus dengan kebutuhan anak didik, kedua penulis ini menekankan perlunya memakai pendekatan yang lebih komprehensif untuk mendiagnosis semua faktor menyangkut semua situasi dengan diikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian yang berasal dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum.


Audrey dan Howard Nicholls
Dalam bukunya, developing curriculum: A Participial Guide (1978), Audrey dan Howard Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang cukup tegas mencakip elemen-elemen kurikulum dengan jelas dan ringkas. Buku tersebut sangat popular di kalangan  pendidik, khususnya di Inggirs, di mana pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah sudah lama ada.  Nicholas menitik beratkan pada pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum yag munculnya dari adanya perubahan situasi. Mereka berpendapat bahwa
:” …change should be planed and
introduced on a rational and valid this according to logical process, and this has not been the case in the vast majority of
changes that have already taken place” 
 Audrey dan Nichllos mendifisikan kembali metodenya Tyler, Taba, Wheeller dengan menekan pada kurikulum proses yang bersiklus atau bentuk lingkaran, dan ini dilakuakan demi langkah awal, yaitu analisis situasi (situasional analysis). Kedua penulis ini mengukapkan bahwa sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan dengan lebih  jelas, konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu harus dibuat harus diperrtimbangkan dengan secara mendetail dan serius. Dengan demikian, analisis situasi menjadi langkah pertama (preliminary stage) yang membuat para pengembang kurikulum memahami faktor-faktor yang akan mereka kembangkan. Terdapat lima langkah atau tahap (stage) yang diperlukan dalam proses  pengembangan secara kontinu (continue curriculum process). Langkah-langkah terbut menurut Nicholls adalah; a.

Situsional analysis 
 (analisis situasional)  b.

Selection of objectives 
 (seleksi tujuan) c.

Selection ang organization of content 
 (seleksi dan organisasi isi) d.

Selction and organization of methods 
 (seleksi dan organisasi metode) e.

Evaluation 
 (evaluasi) Masuknya fase analisis situasi (situasioanal analysis) merupakan suatu yang disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum lebih reposintif terhadap lingkungan dan secara
 
khusus dengan kebutuhan anak didik, kedua penulis ini menekankan perlunya memakai  pendekatan yang lebih komprehensif untuk mendiagnosis semua faktor menyangkut semua situasi dengan diikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian yang berasal dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum. Audery dan Nicholls mendefinisikan kembali metodenya Tyler, Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran, dan ini dilakukan demi langkah awal yaitu analisis situasi. Lima langkah pengembangan kurikulum menurut Audery dan Nicholls yaitu, a.

Analisis situas  b.

Menentukan tujuan khusus c.

Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran d.

Menentukan dan mengorganisasi metode e.

Evaluasi Model pengembangan kurikulum D. K. Wheeler, Audery dan Howard Nicholls dikategorikan dalam
Cycle Models
 yang mana dalam model ini juga mempunyai kekuatan dan kelemahan. Model pengembangan Wheeler dan Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum
cycle models.
 Sama dengan
rational models,
maka
cycle models
ini juga memiliki  beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari
cycle models
adalah: a.

Memiliki struktur logis kurikulum yang dikembangkannya  b.

Dengan menerapkan
 situational analysis
sebagai titik permulaan dapat memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan.
Menentukan tujuan khusus
Evaluasi
Menentukan dan mengorganisasi metode Analisis Situasi Menentukan dan mengorganisasian isi pelajaran
 
c.

Melihat berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi terhadap perubahan situasi. Sedangkan kelemahan dari
cycle models
adalah karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan
rational model
maka kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama dengan yang telah diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol adalah membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat kondisi juga bahwa kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada menggunakan basis data yang sistematis dan sesuai dengan situasi.

Audery dan Howard Nicholls
Audery dan Howard Nicholls mendefinisikan kembali metode Tyler, Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran dengan langkah awalnya adalah analisis situasi. Mereka menitikberatkan pada pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya perubahan situasi. Fase analisis situasi ini merupakan sesuatu yang memaksa para pengembang kurikulum untuk lebih responsif terhadap lingkungan dan terutama dengan kebutuhan anak didik.
 Adapun langkah-langkah tersebut adalah:
a.      Situational analisys (analisis situasi)
b.      Selection of objectives (seleksi tujuan)
c.      Selection and organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d.     Selection and organization of method (seleksi dan organisasi metode)
e.      Evaluation (evaluasi)
Model pengembangan Wheeler dan Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum cycle models. Sama dengan rational models, maka cycle models ini juga memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari cycle models adalah:
a.       Memiliki struktur logis kurikulum yang dikembangkannya
b.      Dengan menerapkan situational analysis sebagai titik permulaan dapat memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan.
c.       Melihat berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi terhadap perubahan situasi.
Sedangkan kelemahan dari cycle models adalah karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan rational model  maka kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama dengan yang telah diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol adalah membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat kondisi juga bahwa kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada menggunakan basis data yang sistematis dan sesuai dengan situasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar