Audrey dan Howard Nicholls
Dalam bukunya, developing
curriculum: A Participial Guide (1978), Audrey dan Howard Nicholls
mengembangkan suatu pendekatan yang cukup tegas mencakip elemen-elemen
kurikulum dengan jelas dan ringkas. Buku tersebut sangat popular di kalangan
pendidik, khususnya di Inggirs, di mana pengembangan kurikulum pada tingkat
sekolah sudah lama ada.
Nicholas menitikberatkan pada
pendekatan pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk
kurikulum yag munculnya dari adanya perubahan situasi. Mereka berpendapat bahwa
:” …change should be planed and introduced on a rational and valid this
according to logical process, and this has not been the case in the vast
majority of changes that have already taken place”
Audrey dan Nichllos mendifisikan
kembali metodenya Tyler, Taba, Wheeller dengan menekan pada kurikulum proses
yang bersiklus atau bentuk lingkaran, dan ini dilakuakan demi langkah awal,
yaitu analisis situasi (situasional analysis). Kedua penulis ini mengukapkan bahwa
sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau dilakukan dengan lebih jelas,
konteks dan situasi di mana keputusan kurikulum itu harus dibuat harus
diperrtimbangkan dengan secara mendetail dan serius. Dengan demikian,
analisis situasi menjadi langkah pertama (preliminary stage) yang membuat
para pengembang kurikulum memahami faktor-faktor yang akan mereka kembangkan.
Terdapat lima langkah atau tahap
(stage) yang diperlukan dalam proses pengembangan secara kontinu (continue
curriculum process). Langkah-langkah terbut menurut Nicholls adalah;
a.
Situsional analysis (analisis situasional)
b.
Selection of objectives (seleksi tujuan)
c.
Selection ang organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d.
Selction and organization of methods (seleksi dan organisasi metode)
e.
Evaluation (evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi
(situasioanal analysis) merupakan suatu yang disengaja untuk memaksa para
pengembang kurikulum lebih reposintif terhadap lingkungan dan secara khusus
dengan kebutuhan anak didik, kedua penulis ini menekankan perlunya memakai
pendekatan yang lebih komprehensif untuk mendiagnosis semua faktor menyangkut
semua situasi dengan diikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian yang berasal
dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum.
Audrey dan
Howard Nicholls
Dalam
bukunya, developing curriculum: A Participial Guide (1978), Audrey dan Howard
Nicholls mengembangkan suatu pendekatan yang cukup tegas mencakip elemen-elemen
kurikulum dengan jelas dan ringkas. Buku tersebut sangat popular di kalangan
pendidik, khususnya di Inggirs, di mana pengembangan kurikulum pada
tingkat sekolah sudah lama ada. Nicholas menitik beratkan pada pendekatan
pengembangan kurikulum yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum yag
munculnya dari adanya perubahan situasi. Mereka berpendapat bahwa
:” …change
should be planed and
introduced on a rational and valid this according to logical
process, and this has not been the case in the vast majority of
changes that
have already taken place”
Audrey
dan Nichllos mendifisikan kembali metodenya Tyler, Taba, Wheeller dengan
menekan pada kurikulum proses yang bersiklus atau bentuk lingkaran, dan ini
dilakuakan demi langkah awal, yaitu analisis situasi (situasional analysis).
Kedua penulis ini mengukapkan bahwa sebelum elemen-elemen tersebut diambil atau
dilakukan dengan lebih jelas, konteks dan situasi di mana keputusan
kurikulum itu harus dibuat harus diperrtimbangkan dengan secara mendetail dan
serius. Dengan demikian, analisis situasi menjadi langkah pertama (preliminary
stage) yang membuat para pengembang kurikulum memahami faktor-faktor yang akan
mereka kembangkan. Terdapat lima langkah atau tahap (stage) yang diperlukan
dalam proses pengembangan secara kontinu (continue curriculum process).
Langkah-langkah terbut menurut Nicholls adalah; a.
Situsional analysis
(analisis
situasional) b.
Selection of objectives
(seleksi
tujuan) c.
Selection ang organization of content
(seleksi
dan organisasi isi) d.
Selction and organization of methods
(seleksi
dan organisasi metode) e.
Evaluation
(evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi (situasioanal analysis) merupakan suatu yang
disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum lebih reposintif terhadap
lingkungan dan secara
khusus
dengan kebutuhan anak didik, kedua penulis ini menekankan perlunya memakai
pendekatan yang lebih komprehensif untuk mendiagnosis semua faktor
menyangkut semua situasi dengan diikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian
yang berasal dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum. Audery dan
Nicholls mendefinisikan kembali metodenya Tyler, Taba, dan Wheeler dengan
menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran, dan
ini dilakukan demi langkah awal yaitu analisis situasi. Lima langkah
pengembangan kurikulum menurut Audery dan Nicholls yaitu, a.
Analisis
situas b.
Menentukan
tujuan khusus c.
Menentukan
dan mengorganisasi isi pelajaran d.
Menentukan
dan mengorganisasi metode e.
Evaluasi
Model pengembangan kurikulum D. K. Wheeler, Audery dan Howard Nicholls
dikategorikan dalam
Cycle Models
yang
mana dalam model ini juga mempunyai kekuatan dan kelemahan. Model pengembangan
Wheeler dan Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum
cycle
models.
Sama
dengan
rational
models,
maka
cycle models
ini juga
memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari
cycle models
adalah: a.
Memiliki
struktur logis kurikulum yang dikembangkannya b.
Dengan
menerapkan
situational
analysis
sebagai
titik permulaan dapat memberikan dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih
efektif mungkin akan dikembangkan.
Menentukan
tujuan khusus
Evaluasi
Menentukan
dan mengorganisasi metode Analisis Situasi Menentukan dan mengorganisasian isi
pelajaran
c.
Melihat
berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat
menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi
terhadap perubahan situasi. Sedangkan kelemahan dari
cycle models
adalah
karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan
rational
model
maka
kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama dengan yang telah
diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol adalah membutuhkan
banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat kondisi juga bahwa
kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada menggunakan basis
data yang sistematis dan sesuai dengan situasi.
Audery dan Howard Nicholls
Audery dan Howard Nicholls
mendefinisikan kembali metode Tyler, Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada
kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran dengan langkah awalnya
adalah analisis situasi. Mereka menitikberatkan pada pengembangan kurikulum
yang rasional, khususnya kebutuhan untuk kurikulum baru yang muncul dari adanya
perubahan situasi. Fase analisis situasi ini merupakan sesuatu yang memaksa
para pengembang kurikulum untuk lebih responsif terhadap lingkungan dan
terutama dengan kebutuhan anak didik.
Adapun langkah-langkah tersebut
adalah:
a. Situational
analisys (analisis situasi)
b. Selection of
objectives (seleksi tujuan)
c. Selection
and organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d. Selection
and organization of method (seleksi dan organisasi metode)
e. Evaluation (evaluasi)
Model pengembangan Wheeler dan
Nicholls termasuk ke dalam model pengembangan kurikulum cycle models.
Sama dengan rational models, maka cycle models ini juga memiliki
beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Adapun kelebihan dari cycle models adalah:
a.
Memiliki
struktur logis kurikulum yang dikembangkannya
b. Dengan
menerapkan situational analysis sebagai titik permulaan dapat memberikan
dasar data sehingga tujuan-tujuan yang lebih efektif mungkin akan dikembangkan.
c.
Melihat
berbagai elemen kurikulum sebagai asal yang terus menerus, sehingga dapat
menanggulangi situasi-situasi baru dan mempunyai konsekuensi untuk bereaksi
terhadap perubahan situasi.
Sedangkan kelemahan dari cycle
models adalah karena model ini memiliki beberapa kesamaan dengan rational
model maka kelemahan yang dimiliki oleh model ini pun hampir sama
dengan yang telah diuraikan sebelumnya. Tetapi kelemahan yang lebih menonjol
adalah membutuhkan banyak waktu untuk menganalisis situasi belajar. Melihat
kondisi juga bahwa kebanyakan pendidik lebih suka mengandalkan intuisi daripada
menggunakan basis data yang sistematis dan sesuai dengan situasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar